Friday, January 12, 2018

Senja yang tak layak hilang 001

Kau tiba ketika terpencar tak berada satu kepingan jiwa pada diri.
Membayar semua dosa raga ini kepada jiwa.
Dengan indah warna yang kau miliki, curang!
Kau dapat melunasi dengan mudah, kau curang!

Kau membuat jiwaku berlutut padamu yang mana masih terpencar.
Mata kecilku mengirimkan pesan lembutnnya pada otak kerdil.
Hingga membius diri menjadi bisu yang nikmat.
Dasar jiwa ini memang murahan, murah terbius begitu saja.

Ya, senja memang begitu indah penuh makna tanpa dasar.
Tak ingin aku sekali-kali mengartikan apa pun itu.
Aku hanya ingin menikmatimu dan memelukmu dalam khidmat.
Tapi, engkau adalah senja.

Semua tau itu.
Apakah boleh ku sebut curang, lagi?
Yang mana kepingan mulai kembali.
Dirimu, entah telah mengalah pada gelap atau tidak.

Bayangan yang tersisa begitu indah.
Tapi, malah menampar keras kembali pada jiwa.
Menjadi keping yang terpencar kembali.
Membangunkan raga yang sedang rindu nikmat.

Sadar, dan kembali melangkah dengan rasa.
Rasa kesal? Tidak!
Aku suka rasa ini, menikmatinya
Membuat diriku bisa merasa kembali.

Engkau memang tak layak untuk hilang.
Tapi, aku tau engkau harus hilang.
Kekasih, terima kasih.
Layaknya senjaku.