Bertatap, saling berpandang disuatu kerumunan akan kebahagian anak Adam.
Dirimu memikat hati ini tanpa alasan yang jelas "mengapa dapat begitu?".
Tidakah ada jawaban yang dapat dihadirkan oleh logika diriku, karena dirimu bukan untuk dikalkulasi oleh logika.
Emosi dan perasaan, akhirnya menjawab.
Dirimu, dirimu, dirimu,
Selalu menemaniku dalam emosi dan perasaan bersama.
Cantik hatimu tumbuh semakin indah memikat, tanpa disadari oleh logika kamu dan aku.
Sehingga, logika turut membantai perasaan kita bersama bukan sebaliknya.
Tindakannya membuat perasaan kita semakin bias.
No comments:
Post a Comment