Tuesday, December 30, 2014

Detikku, duaribu14

Detik mulai berjalan mundur untuk meninggalkannya segera.
Menjadikannya suatu sejarah hidup untuk selalu dikenang.

Apakah detik-detik itu rela meninggalkannya?
Mau tak mau harus meninggalkannya.
Bak kapal layar yang terus mengarungi lautan untuk dapat mencapai tepiannya.

Itu lah detikku, duaribu14.
Ia sudah cukup letih mengarungi lautanku.
Laut yang penuh akan gelombang ombak tak hentinya.
Batu karang yang menyakitkan serta menimbulkan bekas luka lama.

Tetapi, detikku juga tak hentinya mengucap syukur kepada-Nya.
Atas segala skenario-Nya yang ada di lautanku.
Dia adalah Sutradara kehidupan yang akan selalu memahami pemainnya.

Aku sayang pada detikku, duaribu14.
Terima kasih,


Krakatau Sebelas

Jumat, 13 Juni aku sesatkan diriku bermain dengan alam. Aku sebagai pemilik hatiku ingin membuatnya menjadi senang. Kadar dosis akan pikiran terhadap ia mulai meluap. Ya, aku harus distraksi itu agar stabil kembali kadar dosis tersebut.

Pergi ke Pelabuhan Merak, Banten untuk menuju Gunung Anak Krakatau seorang diri ditemani manusia yang letih dan senang seraya duduk bersama dalam Bus yang aku tumpangi. Dalam perjalananku kadar dosis itu masih tinggi, sehingga aku berusaha menikmati perjalananku meratapi kedipan lampu-lampu yang menghiasi kota dengan ketidakteraturan yang indah bagiku.

Setiba di Pelabuhan Merak, Banten aku mengerti betapa banyaknya aneka manusia yang masih beraktivitas pada dini hari. Ya, mereka adalah di balik layar manusia-manusia yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaum kota, dengan kehidupan yang sangat timpang tentunya.

Aku berdiam diri, tentu mencari manusia-manusia yang serupa halnya denganku. Bertemu aku dengan sosok manusia tinggi tidak lebar berkaca mata berkaos merah. Berjabat tangan, kita seraya memproklamirkan pertemanan yang sah secara administrasi tentunya. Kemudian dia memperkenalkan manusia sosok tinggi seperti diriku berkaca mata dan menggunakan kaos merah. Kami berbicara akan sosok masing-masing diri kami. Tak lama aku kembali berjabat tangan dengan sosok manusia lebar dan berisik, hahaha. 

Kemudian kami berempat berbincang, sehingga membuat perutku berdemo menuntut gaji 12 jam yang tak kunjung ku berikan. Aku bergegas mencari gaji untuk perutku ditemani sosok manusia lebar dan berisik, hahaha. Ketika kami sedang memberikan gaji perut masing-masing, sosok manusia lebar menerima telepon dari temannya yang akan sampai bertemu kami.

Tak lama setelah menutup telepon, sosok-sosok tersebut berdatangan menghampiri kami dan berjabat tangan untuk proklamasi. Sosok pertama ada manusia lugu dan polos seperti anak kehilangan ibu, kemudian sosok kedua manusia berjenggot tipis layaknya seorang bapak dengan badan yang kekar tak berlebih, kemudian sosok berbadan besar sedikit cokelat gelap warna kulitnya, ada lagi sosok manusia kurus berkaca mata yang lucu senyumnya seperti anak, kemudian sosok manusia putih cina tak seperti tapinya, kemudian terakhir sosok yang aktif berbicara dan menggoda, hahaha. Kemudian kami berjalan kembali ke tempat berkumpul. Dan terakhir sosok seperti diriku, dengan sifat pendiam tetapi sekali bicara sangat menggoda secara efisien, hahaha.

Itu lah kami, yang mengproklamirkan diri sebagai Group Krakatau Sebelas, sebuah pertemanan singkat, namun sangatlah berkesan. Menikmati keindahan Pulau Krakatau dan sekitarnya selama 2 hari untuk selamanya. Bernyanyi mengarungi Selat Sunda menggunakan perahu kayu yang asik tentu rasanya.

Sketsa oleh manusia kurus berkaca mata yang lucu senyumnya seperti anak









*ini adalah postingan lama yang tersimpan lama di draft dan sudah lupa lama untuk ditampilkan.