Menjadikannya suatu sejarah hidup untuk selalu dikenang.
Apakah detik-detik itu rela meninggalkannya?
Mau tak mau harus meninggalkannya.
Bak kapal layar yang terus mengarungi lautan untuk dapat mencapai tepiannya.
Itu lah detikku, duaribu14.
Ia sudah cukup letih mengarungi lautanku.
Laut yang penuh akan gelombang ombak tak hentinya.
Batu karang yang menyakitkan serta menimbulkan bekas luka lama.
Tetapi, detikku juga tak hentinya mengucap syukur kepada-Nya.
Atas segala skenario-Nya yang ada di lautanku.
Dia adalah Sutradara kehidupan yang akan selalu memahami pemainnya.
Aku sayang pada detikku, duaribu14.
Terima kasih,
No comments:
Post a Comment