Sunday, July 15, 2018

Kenikmatan

Apakah nikmat harus terus bersanding dengan perih?
Ataukah nikmat-perih telah lama bersetubuh, lebur jadi Esa.
Hanya saja aku pun tak mau mengakui perih itu.
Kenapa harus ada?

Letih jiwa terus berontak raga disetiap waktu.
Detik yang berlalu hanya menyisakan kekosongan.
Kekosongan jiwa, raga lumpuh seolah tak dapat menikmati rasa yang ada.
Tapi aku senang jiwa raga ini melebur jua, ketika ...

Ketika ku sadar perih ini memang harus tetap ada.
Dia harus tetap hadir untuk menjaga nikmat.
Tanpa perih, aku hanya bajingan durjana dengan raga tak beserta jiwanya.
Tanpa perih, aku bukan seorang manusiaNya


Friday, January 12, 2018

Senja yang tak layak hilang 001

Kau tiba ketika terpencar tak berada satu kepingan jiwa pada diri.
Membayar semua dosa raga ini kepada jiwa.
Dengan indah warna yang kau miliki, curang!
Kau dapat melunasi dengan mudah, kau curang!

Kau membuat jiwaku berlutut padamu yang mana masih terpencar.
Mata kecilku mengirimkan pesan lembutnnya pada otak kerdil.
Hingga membius diri menjadi bisu yang nikmat.
Dasar jiwa ini memang murahan, murah terbius begitu saja.

Ya, senja memang begitu indah penuh makna tanpa dasar.
Tak ingin aku sekali-kali mengartikan apa pun itu.
Aku hanya ingin menikmatimu dan memelukmu dalam khidmat.
Tapi, engkau adalah senja.

Semua tau itu.
Apakah boleh ku sebut curang, lagi?
Yang mana kepingan mulai kembali.
Dirimu, entah telah mengalah pada gelap atau tidak.

Bayangan yang tersisa begitu indah.
Tapi, malah menampar keras kembali pada jiwa.
Menjadi keping yang terpencar kembali.
Membangunkan raga yang sedang rindu nikmat.

Sadar, dan kembali melangkah dengan rasa.
Rasa kesal? Tidak!
Aku suka rasa ini, menikmatinya
Membuat diriku bisa merasa kembali.

Engkau memang tak layak untuk hilang.
Tapi, aku tau engkau harus hilang.
Kekasih, terima kasih.
Layaknya senjaku.


Tuesday, September 5, 2017

Budak Diri

Hina, satu kata terlintas jika kita tidak merdeka untuk hal yang paling sepele.

Merdeka pada diri sendiri

Sunday, June 25, 2017

Makna

Bumi ini memiliki pujangga tak tersentuh.
Layaknya pujangga yang menuju matang, kandung mencari makna dirinya. Waktu tak akan menjawab kapan pujangga itu menemukan maknanya. Karena alam akan menempanya bukan dari karbit.  

Wednesday, March 22, 2017

Rintihan langit

Engkau tahu, butiran ini semakin ramai.
Terjang-menerjang tanah, menerpa diri.
Semakin engkau tahan semakin ia menekan, semakin engkau lupakan, semakin ia pikirkan.

Oh kekasih tak berlabuh di hati.
Berlabuh padaku kelak agar dermaga ini tak sepi.
Hanya harap yang ada pada harum tanah yang menguap ketika hujan memberi.

Teruntukmu ...

Thursday, December 22, 2016

Terperosok

Entahlah, aku merasa terkurung oleh diriku sendiri.
Pikiran ini terlalu takut akan rasa masa lalu yang terus ada.
Aku teringat oleh kata-kataku dahulu, bahwa
"kebahagiaan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri, bukan dengan mencarinya yang mengakibatkan engkau akan terperosok ke jurang kesepian".
Selalu menjadi kata mutiara ketika berkhutbah kepada kawan yang hatinya sedang berkabut.

Oohh..
Aku merasakan munafiknya kata-kata tersebut, ketika aku harus keluar dari jurangnya.
Siapa dalam diriku? Hey, boleh kita bersua dengan bahagianya bagai jasad dan qolbu yang berirama?

Maafkan diriku Evan Williams, salah satu mahakarya dirimu menjadi luapan kata-kata dariku yang tidak bermakna.

selamat malam,

Tuesday, October 27, 2015

Belajar dari Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia

Bagiku, Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia adalah sebuah perjalanan proses untuk pendewasaan diri.

Acara yang lahir dari sekumpulan manusia-manusia kreatif untuk menginspirasi penduduk Indonesia akan pentingnya sains bagi kehidupan manusia. The Science of Today is The Technology of Tomorrow. (Edward Teller).


Sabtu, 24 Oktober 2015 merupakan acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia yang telah berlangsung untuk keenam kalinya sejak pertama digulirkannya pada tahun 2010.



Aku tidak akan pernah mengucapkan selamat atas berlangsungnya acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia disetiap tahunnya. Karena dengan berakhirnya acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia disetiap tahunnya, berarti kita telah memberikan tanggung jawab lebih kepada generasi-generasi penerus yang ada di Departemen Fisika Universitas Indonesia untuk dapat melaksanakan kembali acara ini dengan lebih baik dari sebelumnya dan tentunya memang harus lebih baik. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Hasr 18).


Apresiasi, aku berikan dengan rasa hormat tinggi kepada kalian yang telah berkontribusi penuh untuk Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia. Kalian yang telah melewati, menikmati, dan tentunya memahami drama dinamika-dinamika yang terjadi ketika proses pembentukan acara ini. Karena dengan kalian memahami dinamika tersebut, kalian telah memiliki bekal ketika pada waktunya harus melepaskan almamater Departemen Fisika Universitas Indonesia.


Hutan rimba tidaklah menakutkan ketika dibandingkan dengan "Hutan Kota" yang dipenuhi dengan manusia-manusia yang penuh akal dan tipu daya untuk memuaskan nafsu egonya pribadi. Tetapi, kalian yang memahami dinamika-dinamika yang terjadi di Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia telah belajar pada miniatur "Hutan Kota" yang telah kalian lewati.



Applicate, Optimize, Enjoy
I Told You, Physics Works!!!. (Walter Lewin).