Bumi ini memiliki pujangga tak tersentuh.
Layaknya pujangga yang menuju matang, kandung mencari makna dirinya. Waktu tak akan menjawab kapan pujangga itu menemukan maknanya. Karena alam akan menempanya bukan dari karbit.
Sunday, June 25, 2017
Makna
Wednesday, March 22, 2017
Rintihan langit
Engkau tahu, butiran ini semakin ramai.
Terjang-menerjang tanah, menerpa diri.
Semakin engkau tahan semakin ia menekan, semakin engkau lupakan, semakin ia pikirkan.
Oh kekasih tak berlabuh di hati.
Berlabuh padaku kelak agar dermaga ini tak sepi.
Hanya harap yang ada pada harum tanah yang menguap ketika hujan memberi.
Teruntukmu ...
Thursday, December 22, 2016
Terperosok
Entahlah, aku merasa terkurung oleh diriku sendiri.
Pikiran ini terlalu takut akan rasa masa lalu yang terus ada.
Aku teringat oleh kata-kataku dahulu, bahwa
"kebahagiaan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri, bukan dengan mencarinya yang mengakibatkan engkau akan terperosok ke jurang kesepian".
Selalu menjadi kata mutiara ketika berkhutbah kepada kawan yang hatinya sedang berkabut.
Oohh..
Aku merasakan munafiknya kata-kata tersebut, ketika aku harus keluar dari jurangnya.
Siapa dalam diriku? Hey, boleh kita bersua dengan bahagianya bagai jasad dan qolbu yang berirama?
Maafkan diriku Evan Williams, salah satu mahakarya dirimu menjadi luapan kata-kata dariku yang tidak bermakna.
selamat malam,
Pikiran ini terlalu takut akan rasa masa lalu yang terus ada.
Aku teringat oleh kata-kataku dahulu, bahwa
"kebahagiaan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri, bukan dengan mencarinya yang mengakibatkan engkau akan terperosok ke jurang kesepian".
Selalu menjadi kata mutiara ketika berkhutbah kepada kawan yang hatinya sedang berkabut.
Oohh..
Aku merasakan munafiknya kata-kata tersebut, ketika aku harus keluar dari jurangnya.
Siapa dalam diriku? Hey, boleh kita bersua dengan bahagianya bagai jasad dan qolbu yang berirama?
Maafkan diriku Evan Williams, salah satu mahakarya dirimu menjadi luapan kata-kata dariku yang tidak bermakna.
selamat malam,
Tuesday, October 27, 2015
Belajar dari Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia
Bagiku, Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia adalah sebuah perjalanan proses untuk pendewasaan diri.
Acara yang lahir dari sekumpulan manusia-manusia kreatif untuk menginspirasi penduduk Indonesia akan pentingnya sains bagi kehidupan manusia. The Science of Today is The Technology of Tomorrow. (Edward Teller).
Sabtu, 24 Oktober 2015 merupakan acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia yang telah berlangsung untuk keenam kalinya sejak pertama digulirkannya pada tahun 2010.
Aku tidak akan pernah mengucapkan selamat atas berlangsungnya acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia disetiap tahunnya. Karena dengan berakhirnya acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia disetiap tahunnya, berarti kita telah memberikan tanggung jawab lebih kepada generasi-generasi penerus yang ada di Departemen Fisika Universitas Indonesia untuk dapat melaksanakan kembali acara ini dengan lebih baik dari sebelumnya dan tentunya memang harus lebih baik. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Hasr 18).
Apresiasi, aku berikan dengan rasa hormat tinggi kepada kalian yang telah berkontribusi penuh untuk Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia. Kalian yang telah melewati, menikmati, dan tentunya memahami drama dinamika-dinamika yang terjadi ketika proses pembentukan acara ini. Karena dengan kalian memahami dinamika tersebut, kalian telah memiliki bekal ketika pada waktunya harus melepaskan almamater Departemen Fisika Universitas Indonesia.
Hutan rimba tidaklah menakutkan ketika dibandingkan dengan "Hutan Kota" yang dipenuhi dengan manusia-manusia yang penuh akal dan tipu daya untuk memuaskan nafsu egonya pribadi. Tetapi, kalian yang memahami dinamika-dinamika yang terjadi di Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia telah belajar pada miniatur "Hutan Kota" yang telah kalian lewati.
Applicate, Optimize, Enjoy
I Told You, Physics Works!!!. (Walter Lewin).
Wednesday, December 31, 2014
Tuesday, December 30, 2014
Detikku, duaribu14
Detik mulai berjalan mundur untuk meninggalkannya segera.
Menjadikannya suatu sejarah hidup untuk selalu dikenang.
Apakah detik-detik itu rela meninggalkannya?
Mau tak mau harus meninggalkannya.
Bak kapal layar yang terus mengarungi lautan untuk dapat mencapai tepiannya.
Itu lah detikku, duaribu14.
Ia sudah cukup letih mengarungi lautanku.
Laut yang penuh akan gelombang ombak tak hentinya.
Batu karang yang menyakitkan serta menimbulkan bekas luka lama.
Tetapi, detikku juga tak hentinya mengucap syukur kepada-Nya.
Atas segala skenario-Nya yang ada di lautanku.
Dia adalah Sutradara kehidupan yang akan selalu memahami pemainnya.
Aku sayang pada detikku, duaribu14.
Terima kasih,
Krakatau Sebelas
Jumat, 13 Juni aku sesatkan diriku bermain dengan alam. Aku sebagai pemilik hatiku ingin membuatnya menjadi senang. Kadar dosis akan pikiran terhadap ia mulai meluap. Ya, aku harus distraksi itu agar stabil kembali kadar dosis tersebut.
Pergi ke Pelabuhan Merak, Banten untuk menuju Gunung Anak Krakatau seorang diri ditemani manusia yang letih dan senang seraya duduk bersama dalam Bus yang aku tumpangi. Dalam perjalananku kadar dosis itu masih tinggi, sehingga aku berusaha menikmati perjalananku meratapi kedipan lampu-lampu yang menghiasi kota dengan ketidakteraturan yang indah bagiku.
Setiba di Pelabuhan Merak, Banten aku mengerti betapa banyaknya aneka manusia yang masih beraktivitas pada dini hari. Ya, mereka adalah di balik layar manusia-manusia yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaum kota, dengan kehidupan yang sangat timpang tentunya.
Aku berdiam diri, tentu mencari manusia-manusia yang serupa halnya denganku. Bertemu aku dengan sosok manusia tinggi tidak lebar berkaca mata berkaos merah. Berjabat tangan, kita seraya memproklamirkan pertemanan yang sah secara administrasi tentunya. Kemudian dia memperkenalkan manusia sosok tinggi seperti diriku berkaca mata dan menggunakan kaos merah. Kami berbicara akan sosok masing-masing diri kami. Tak lama aku kembali berjabat tangan dengan sosok manusia lebar dan berisik, hahaha.
Kemudian kami berempat berbincang, sehingga membuat perutku berdemo menuntut gaji 12 jam yang tak kunjung ku berikan. Aku bergegas mencari gaji untuk perutku ditemani sosok manusia lebar dan berisik, hahaha. Ketika kami sedang memberikan gaji perut masing-masing, sosok manusia lebar menerima telepon dari temannya yang akan sampai bertemu kami.
Tak lama setelah menutup telepon, sosok-sosok tersebut berdatangan menghampiri kami dan berjabat tangan untuk proklamasi. Sosok pertama ada manusia lugu dan polos seperti anak kehilangan ibu, kemudian sosok kedua manusia berjenggot tipis layaknya seorang bapak dengan badan yang kekar tak berlebih, kemudian sosok berbadan besar sedikit cokelat gelap warna kulitnya, ada lagi sosok manusia kurus berkaca mata yang lucu senyumnya seperti anak, kemudian sosok manusia putih cina tak seperti tapinya, kemudian terakhir sosok yang aktif berbicara dan menggoda, hahaha. Kemudian kami berjalan kembali ke tempat berkumpul. Dan terakhir sosok seperti diriku, dengan sifat pendiam tetapi sekali bicara sangat menggoda secara efisien, hahaha.
Itu lah kami, yang mengproklamirkan diri sebagai Group Krakatau Sebelas, sebuah pertemanan singkat, namun sangatlah berkesan. Menikmati keindahan Pulau Krakatau dan sekitarnya selama 2 hari untuk selamanya. Bernyanyi mengarungi Selat Sunda menggunakan perahu kayu yang asik tentu rasanya.
Sketsa oleh manusia kurus berkaca mata yang lucu senyumnya seperti anak
*ini adalah postingan lama yang tersimpan lama di draft dan sudah lupa lama untuk ditampilkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)