Thursday, June 12, 2014

Manusia Drama

Manusia berdrama,
Ya, karena dunia adalah panggungnya.

Jika drama hanya kemunafikan dari jiwa.
Engkau akan muak dan meludahinya.

Bertutur munafik atas nama sopan,
Bertingkah merendah untuk dipuja,
Berfikir kritis atas nama perut,
Berpandang atas nama syahwat,
Bekerja atas nama derajat.

Kemudian menjadi mahluk terasingkan begitu saja,
Sepi hidup sendiri.

Di balik sepinya hati dan jiwa.
Nikmatilah.

Alam kawan untuk bermain,
Maha Agung kawan untuk berbicara.
Karena ia takkan berdrama seperti Manusia.

Ketika mahluk yang mengasingkan tertawa lepas suka cita.
Tampakkanlah sedih, tanda menghormati usaha mereka.
Beri karya dan kebaikan untuk membungkamnya.




Monday, June 9, 2014

Tiga yang terkurung


Aku takut akan selalu menjadi angka kesepian seperti akar tiga
Hanya tiga yang aku miliki
Kenapa harus kusembunyikan tigaku di bawah tanda akar kuadrat yang kejam?

Ku mengharapkan diriku angka sembilan
Karena sembilan dapat mengalahkannya dengan aritmatika yang sederhana

Aku tahu takkan melihat matahari seperti 1,7321
Seperti kenyataanku, bilangan irasional yang menyedihkan

Ketika, hei, apakah ini yang kulihat? 
Sebuah akar tiga yang lain
Menari mendekatiku

Kemudian, bersama kita saling mengalikan
Membentuk angka yang kita inginkan.
Bersatu menjadi bilangan bulat

Kita mendobrak ikatan abadi, dengan ayunan tongkat sihir
Tanda kuadrat kami terlepas
Dan cinta untukku telah kembali



(Kumar, 2008)



Saturday, June 7, 2014

Senja yang tak layak hilang

Kamu, peralihan antar waktu.
Di mana ketika raksasa bintang putih bersinar menyengat.
Miniatur-miniatur di Bumi berlari-lari.
Seakan ingin menunjukkan keagungan pribadi.

Lelah setelah mereka mengejar keagungan dirinya.
Maha Agung sesungguhnya mengutus engkau.
Seolah lelah ini sirna tak perlu dirasa kembali.

Bintang raksasa tersebut melembut.
Tak ada keraguan lagi untuk menantang melihat dirinya.
Ya, senja hadir tak kala bintang raksasa merendah untuk turun menghampir.

Maha bintang merendah untuk miniatur Bumi atas perintah-Nya.
Masihkah kita yang hanya miniatur Bumi begitu congkak dalam keagungan pribadi?

Ya, senja itu tak layak hilang.
Aku ingin terus menatapmu.
Memeluk hangatmu.
Merasakan kelembutan harummu.
Kerendahan bersahajamu.

Aku, ya aku juga merasakan apa yang engkau berikan dari kekasih hatiku.
Kekasih hati yang hanya untuk dirasa.
Layaknya senjaku.

Friday, June 6, 2014

Terlintas kata-kata,

1.
"Keterbatasan (seharusnya), membuat kita semakin lebih kreatif." (dpriambo)

2.
"Dan merupakan bagian yang paling berbahaya; sadar benar jika harus berubah dan menolak orang yang datang dengan ide perubahan." (dpriambo)

3.
"Pergilah, maka kita akan menikmati perbedaan." (dpriambo)

4.
"Tugasku membuat kau senang, jika gagal maka aku sudah ditelan bumi." (dpriambo)

5.
"Yakini apa yang kita yakini, hasilnya keyakinan yang membuat senang." (dpriambo)

6.
"Kesulitan menjadikan kita; lebih baik atau lebih buruk." (dpriambo)

7.
"Loyalitas? Ah sudahlah, kupikir engkau bantal empuk yang terbuat dari awan." (dpriambo)

8.
"Ash-shalaatu khairum sinau. Sholat lebih baik dari pada belajar." (dpriambo) 

9.
"Bagiku, hidup keren itu sederhana." (dpriambo)

10.
"Manusia berdrama. Ya, karena dunia adalah panggungnya." (dpriambo)

11.
"PHP itu tidak ada, yang ada hanya ke-geer-an" (dpriambo)

12.
"Kita Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial yang berinteraksi dengan nyata bukan melalui media sosial." (dpriambo)

13.
"Kebahagiaan diciptakan oleh Manusia itu sendiri, bukan dengan mencarinya yang mengakibatkan terperosok ke jurang kesepian." (dpriambo)

14.
"Terseraaah lahhh ... Yaudaaa lahhh ... Gapapaaa Sihhh ..." (dpriambo)

15.
"Cinta itu bukan menghakimi, tapi mengasihi." (dpriambo)

16.
"Kita, dewasa karena penerimaan bukan paksaan." (dpriambo)
17.
"Jalanan, tempat berpancarnya mata tentang ketangguhan manusia." (dpriambo)





Monday, June 2, 2014

Senjata Hati

*** sedang digunakan ***

Siapa?

Dia,
Aku rasa bukan sekadar manusia.
Karena manusia tidak mungkin berbuat begitu.
Tindakannya selalu memberikanku makna untuk bertindak.
Ya, dibalik keputusanku selama ini.
Sesungguhnya atas inspirasinya jua.
Tapi, sangatlah disayangkan.
Aku belum dapat berbuat untuk dirinya lebih dari yang Dia berikan.
Terlambatkah bertindak?
Oh tentu tidak bagiku.
Karena dia selalu ada di dalam pikiran liarku.
Tugasku untuk buatmu tetap senang.
Jika aku gagal, tandanya aku sudah ditelan bumi.
Siapa dirinya?
Aku dan Dia.

Terbang, layanganku tidak.

Layangan itu asik diterbangkan, jika terbang.
Menggapai langit senja sore hari di bumi yang indah, jika menganggapnya begitu.
Aku yang di bawahnya, merasa iri.
Dianggapnya kecil oleh layanganku sendiri.
Dia menari-nari di angkasa, memandang bumi di bawahnya menjadi kecil.
Karena aku iri, aku tirunya.
Aku harus terbang melalui pikiranku yang liar.
Agar aku dapat menari-nari dengan senang di mana pun raga ini ada.