Kamu, peralihan antar waktu.
Di mana ketika raksasa bintang putih bersinar menyengat.
Miniatur-miniatur di Bumi berlari-lari.
Seakan ingin menunjukkan keagungan pribadi.
Lelah setelah mereka mengejar keagungan dirinya.
Maha Agung sesungguhnya mengutus engkau.
Seolah lelah ini sirna tak perlu dirasa kembali.
Bintang raksasa tersebut melembut.
Tak ada keraguan lagi untuk menantang melihat dirinya.
Ya, senja hadir tak kala bintang raksasa merendah untuk turun menghampir.
Maha bintang merendah untuk miniatur Bumi atas perintah-Nya.
Masihkah kita yang hanya miniatur Bumi begitu congkak dalam keagungan pribadi?
Ya, senja itu tak layak hilang.
Aku ingin terus menatapmu.
Memeluk hangatmu.
Merasakan kelembutan harummu.
Kerendahan bersahajamu.
Aku, ya aku juga merasakan apa yang engkau berikan dari kekasih hatiku.
Kekasih hati yang hanya untuk dirasa.
Layaknya senjaku.
No comments:
Post a Comment