Wednesday, December 31, 2014
Tuesday, December 30, 2014
Detikku, duaribu14
Krakatau Sebelas
Tuesday, September 30, 2014
Wednesday, August 20, 2014
Bandungku
Sunday, July 27, 2014
Thursday, June 12, 2014
Manusia Drama
Ya, karena dunia adalah panggungnya.
Jika drama hanya kemunafikan dari jiwa.
Engkau akan muak dan meludahinya.
Bertutur munafik atas nama sopan,
Bertingkah merendah untuk dipuja,
Berfikir kritis atas nama perut,
Berpandang atas nama syahwat,
Bekerja atas nama derajat.
Kemudian menjadi mahluk terasingkan begitu saja,
Sepi hidup sendiri.
Di balik sepinya hati dan jiwa.
Nikmatilah.
Alam kawan untuk bermain,
Maha Agung kawan untuk berbicara.
Karena ia takkan berdrama seperti Manusia.
Ketika mahluk yang mengasingkan tertawa lepas suka cita.
Tampakkanlah sedih, tanda menghormati usaha mereka.
Beri karya dan kebaikan untuk membungkamnya.
Monday, June 9, 2014
Tiga yang terkurung
Aku takut akan selalu menjadi angka kesepian seperti akar tiga
Hanya tiga yang aku miliki
Kenapa harus kusembunyikan tigaku di bawah tanda akar kuadrat yang kejam?
Ku mengharapkan diriku angka sembilan
Karena sembilan dapat mengalahkannya dengan aritmatika yang sederhana
Aku tahu takkan melihat matahari seperti 1,7321
Seperti kenyataanku, bilangan irasional yang menyedihkan
Ketika, hei, apakah ini yang kulihat?
Sebuah akar tiga yang lain
Menari mendekatiku
Kemudian, bersama kita saling mengalikan
Membentuk angka yang kita inginkan.
Bersatu menjadi bilangan bulat
Kita mendobrak ikatan abadi, dengan ayunan tongkat sihir
Tanda kuadrat kami terlepas
Dan cinta untukku telah kembali
Saturday, June 7, 2014
Senja yang tak layak hilang
Kamu, peralihan antar waktu.
Di mana ketika raksasa bintang putih bersinar menyengat.
Miniatur-miniatur di Bumi berlari-lari.
Seakan ingin menunjukkan keagungan pribadi.
Lelah setelah mereka mengejar keagungan dirinya.
Maha Agung sesungguhnya mengutus engkau.
Seolah lelah ini sirna tak perlu dirasa kembali.
Bintang raksasa tersebut melembut.
Tak ada keraguan lagi untuk menantang melihat dirinya.
Ya, senja hadir tak kala bintang raksasa merendah untuk turun menghampir.
Maha bintang merendah untuk miniatur Bumi atas perintah-Nya.
Masihkah kita yang hanya miniatur Bumi begitu congkak dalam keagungan pribadi?
Ya, senja itu tak layak hilang.
Aku ingin terus menatapmu.
Memeluk hangatmu.
Merasakan kelembutan harummu.
Kerendahan bersahajamu.
Aku, ya aku juga merasakan apa yang engkau berikan dari kekasih hatiku.
Kekasih hati yang hanya untuk dirasa.
Layaknya senjaku.
Friday, June 6, 2014
Terlintas kata-kata,
6.
"Kesulitan menjadikan kita; lebih baik atau lebih buruk." (dpriambo)
7.
"Loyalitas? Ah sudahlah, kupikir engkau bantal empuk yang terbuat dari awan." (dpriambo)
10.
"Manusia berdrama. Ya, karena dunia adalah panggungnya." (dpriambo)
11.
"PHP itu tidak ada, yang ada hanya ke-geer-an" (dpriambo)
12.
"Kita Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial yang berinteraksi dengan nyata bukan melalui media sosial." (dpriambo)
13.
"Kebahagiaan diciptakan oleh Manusia itu sendiri, bukan dengan mencarinya yang mengakibatkan terperosok ke jurang kesepian." (dpriambo)
14.
"Terseraaah lahhh ... Yaudaaa lahhh ... Gapapaaa Sihhh ..." (dpriambo)
Monday, June 2, 2014
Siapa?
Aku rasa bukan sekadar manusia.
Karena manusia tidak mungkin berbuat begitu.
Ya, dibalik keputusanku selama ini.
Sesungguhnya atas inspirasinya jua.
Aku belum dapat berbuat untuk dirinya lebih dari yang Dia berikan.
Oh tentu tidak bagiku.
Karena dia selalu ada di dalam pikiran liarku.
Jika aku gagal, tandanya aku sudah ditelan bumi.
Aku dan Dia.
Terbang, layanganku tidak.
Menggapai langit senja sore hari di bumi yang indah, jika menganggapnya begitu.
Dianggapnya kecil oleh layanganku sendiri.
Dia menari-nari di angkasa, memandang bumi di bawahnya menjadi kecil.
Aku harus terbang melalui pikiranku yang liar.
Agar aku dapat menari-nari dengan senang di mana pun raga ini ada.
Friday, May 30, 2014
Rusuk
Malam
Wednesday, May 28, 2014
Pikiran, milik siapa?
Wednesday, May 14, 2014
Dirimu
Dirimu memikat hati ini tanpa alasan yang jelas "mengapa dapat begitu?".
Tidakah ada jawaban yang dapat dihadirkan oleh logika diriku, karena dirimu bukan untuk dikalkulasi oleh logika.
Emosi dan perasaan, akhirnya menjawab.
Dirimu, dirimu, dirimu,
Selalu menemaniku dalam emosi dan perasaan bersama.
Cantik hatimu tumbuh semakin indah memikat, tanpa disadari oleh logika kamu dan aku.
Sehingga, logika turut membantai perasaan kita bersama bukan sebaliknya.
Tindakannya membuat perasaan kita semakin bias.
Sunday, May 11, 2014
Diriku
Semoga tidak bermanfaat bagi kalian, jika memang begitu.
Karena bagiku sebagian hanya untuk distraksi,
Sambil berusaha dan menunggu jawaban dia untuk memulai baru bersamaku.