Tapi, tentang apa?
Bung Djarot berkata pasti berlalu.
Memelukmu, sehingga takkan ada celah sedikitpun untuk menyentuh.
Tertawa hangat dengan kelembutaan yang didambakan semua wanita.
Hei, betapa beruntungnya dirimu?
Saat itulah aku berada di depan menjulurkan tangan untukmu.
Tapi, tidak hanya di depan saja lho.
Aku, di belakangmu menjadi dongkrak semangat jiwa!
Sruputt...
Harum teh poci gula batu dan pisang goreng.
Harum angin menerpa wajah kita.
Seolah dia ingin bergabung dengan indahnya senyum kita.
Senyum yang tentunya tak bermakna, tapi kita dengan sadar menikmatinya.
Senyum ini bermakna, karena kita berhasil menaklukan badai yang baru saja berlalu.
Senyum ini menghimpun tenaga yang mungkin digunakan untuk menaklukan badai selanjutnya.
Jangan pernah berharap ada ultraman tiba, karena cemburuku pun ada.
Pokoknya, jangan harap pahlawan-pahlawan itu datang melindungimu dari badai.
Cukup aku, sudah. Tentu dengan kuasa yang Esa.