Sunday, August 19, 2018

Sajak Jelek, Gak Jelas!

Aku ingin membuat kata-kata,
Tapi, tentang apa?
Ohh Badai,
Bung Djarot berkata pasti berlalu.
Ketika badai menerjang aku ingin menjadi pahlawanmu.
Memelukmu, sehingga takkan ada celah sedikitpun untuk menyentuh.
Badai berlalu, aku akan berada di sampingmu merangkul.
Tertawa hangat dengan kelembutaan yang didambakan semua wanita.
Hei, betapa beruntungnya dirimu?
Ketika cita, ingin kau raih.
Saat itulah aku berada di depan menjulurkan tangan untukmu.
Tapi, tidak hanya di depan saja lho.
Aku, di belakangmu menjadi dongkrak semangat jiwa!
Ah, lalu istirahat sejenak di bangku teras rumah.
Sruputt...
Harum teh poci gula batu dan pisang goreng.
Harum angin menerpa wajah kita.
Seolah dia ingin bergabung dengan indahnya senyum kita.
Senyum yang tentunya tak bermakna, tapi kita dengan sadar menikmatinya.
Ohh tidak,
Senyum ini bermakna, karena kita berhasil menaklukan badai yang baru saja berlalu.
Senyum ini menghimpun tenaga yang mungkin digunakan untuk menaklukan badai selanjutnya.
Walau ku bukan mahluk hidup yang sakti.
Jangan pernah berharap ada ultraman tiba, karena cemburuku pun ada.
Pokoknya, jangan harap pahlawan-pahlawan itu datang melindungimu dari badai.
Cukup aku, sudah. Tentu dengan kuasa yang Esa.
Itulah aku, yang selalu akan bersamamu disegala penjuru arah.

Sunday, July 15, 2018

Kenikmatan

Apakah nikmat harus terus bersanding dengan perih?
Ataukah nikmat-perih telah lama bersetubuh, lebur jadi Esa.
Hanya saja aku pun tak mau mengakui perih itu.
Kenapa harus ada?

Letih jiwa terus berontak raga disetiap waktu.
Detik yang berlalu hanya menyisakan kekosongan.
Kekosongan jiwa, raga lumpuh seolah tak dapat menikmati rasa yang ada.
Tapi aku senang jiwa raga ini melebur jua, ketika ...

Ketika ku sadar perih ini memang harus tetap ada.
Dia harus tetap hadir untuk menjaga nikmat.
Tanpa perih, aku hanya bajingan durjana dengan raga tak beserta jiwanya.
Tanpa perih, aku bukan seorang manusiaNya


Friday, January 12, 2018

Senja yang tak layak hilang 001

Kau tiba ketika terpencar tak berada satu kepingan jiwa pada diri.
Membayar semua dosa raga ini kepada jiwa.
Dengan indah warna yang kau miliki, curang!
Kau dapat melunasi dengan mudah, kau curang!

Kau membuat jiwaku berlutut padamu yang mana masih terpencar.
Mata kecilku mengirimkan pesan lembutnnya pada otak kerdil.
Hingga membius diri menjadi bisu yang nikmat.
Dasar jiwa ini memang murahan, murah terbius begitu saja.

Ya, senja memang begitu indah penuh makna tanpa dasar.
Tak ingin aku sekali-kali mengartikan apa pun itu.
Aku hanya ingin menikmatimu dan memelukmu dalam khidmat.
Tapi, engkau adalah senja.

Semua tau itu.
Apakah boleh ku sebut curang, lagi?
Yang mana kepingan mulai kembali.
Dirimu, entah telah mengalah pada gelap atau tidak.

Bayangan yang tersisa begitu indah.
Tapi, malah menampar keras kembali pada jiwa.
Menjadi keping yang terpencar kembali.
Membangunkan raga yang sedang rindu nikmat.

Sadar, dan kembali melangkah dengan rasa.
Rasa kesal? Tidak!
Aku suka rasa ini, menikmatinya
Membuat diriku bisa merasa kembali.

Engkau memang tak layak untuk hilang.
Tapi, aku tau engkau harus hilang.
Kekasih, terima kasih.
Layaknya senjaku.


Tuesday, September 5, 2017

Budak Diri

Hina, satu kata terlintas jika kita tidak merdeka untuk hal yang paling sepele.

Merdeka pada diri sendiri

Sunday, June 25, 2017

Makna

Bumi ini memiliki pujangga tak tersentuh.
Layaknya pujangga yang menuju matang, kandung mencari makna dirinya. Waktu tak akan menjawab kapan pujangga itu menemukan maknanya. Karena alam akan menempanya bukan dari karbit.  

Wednesday, March 22, 2017

Rintihan langit

Engkau tahu, butiran ini semakin ramai.
Terjang-menerjang tanah, menerpa diri.
Semakin engkau tahan semakin ia menekan, semakin engkau lupakan, semakin ia pikirkan.

Oh kekasih tak berlabuh di hati.
Berlabuh padaku kelak agar dermaga ini tak sepi.
Hanya harap yang ada pada harum tanah yang menguap ketika hujan memberi.

Teruntukmu ...

Thursday, December 22, 2016

Terperosok

Entahlah, aku merasa terkurung oleh diriku sendiri.
Pikiran ini terlalu takut akan rasa masa lalu yang terus ada.
Aku teringat oleh kata-kataku dahulu, bahwa
"kebahagiaan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri, bukan dengan mencarinya yang mengakibatkan engkau akan terperosok ke jurang kesepian".
Selalu menjadi kata mutiara ketika berkhutbah kepada kawan yang hatinya sedang berkabut.

Oohh..
Aku merasakan munafiknya kata-kata tersebut, ketika aku harus keluar dari jurangnya.
Siapa dalam diriku? Hey, boleh kita bersua dengan bahagianya bagai jasad dan qolbu yang berirama?

Maafkan diriku Evan Williams, salah satu mahakarya dirimu menjadi luapan kata-kata dariku yang tidak bermakna.

selamat malam,

Tuesday, October 27, 2015

Belajar dari Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia

Bagiku, Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia adalah sebuah perjalanan proses untuk pendewasaan diri.

Acara yang lahir dari sekumpulan manusia-manusia kreatif untuk menginspirasi penduduk Indonesia akan pentingnya sains bagi kehidupan manusia. The Science of Today is The Technology of Tomorrow. (Edward Teller).


Sabtu, 24 Oktober 2015 merupakan acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia yang telah berlangsung untuk keenam kalinya sejak pertama digulirkannya pada tahun 2010.



Aku tidak akan pernah mengucapkan selamat atas berlangsungnya acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia disetiap tahunnya. Karena dengan berakhirnya acara Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia disetiap tahunnya, berarti kita telah memberikan tanggung jawab lebih kepada generasi-generasi penerus yang ada di Departemen Fisika Universitas Indonesia untuk dapat melaksanakan kembali acara ini dengan lebih baik dari sebelumnya dan tentunya memang harus lebih baik. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Hasr 18).


Apresiasi, aku berikan dengan rasa hormat tinggi kepada kalian yang telah berkontribusi penuh untuk Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia. Kalian yang telah melewati, menikmati, dan tentunya memahami drama dinamika-dinamika yang terjadi ketika proses pembentukan acara ini. Karena dengan kalian memahami dinamika tersebut, kalian telah memiliki bekal ketika pada waktunya harus melepaskan almamater Departemen Fisika Universitas Indonesia.


Hutan rimba tidaklah menakutkan ketika dibandingkan dengan "Hutan Kota" yang dipenuhi dengan manusia-manusia yang penuh akal dan tipu daya untuk memuaskan nafsu egonya pribadi. Tetapi, kalian yang memahami dinamika-dinamika yang terjadi di Pesta Rakyat Fisika Universitas Indonesia telah belajar pada miniatur "Hutan Kota" yang telah kalian lewati.



Applicate, Optimize, Enjoy
I Told You, Physics Works!!!. (Walter Lewin).

















Tuesday, December 30, 2014

Detikku, duaribu14

Detik mulai berjalan mundur untuk meninggalkannya segera.
Menjadikannya suatu sejarah hidup untuk selalu dikenang.

Apakah detik-detik itu rela meninggalkannya?
Mau tak mau harus meninggalkannya.
Bak kapal layar yang terus mengarungi lautan untuk dapat mencapai tepiannya.

Itu lah detikku, duaribu14.
Ia sudah cukup letih mengarungi lautanku.
Laut yang penuh akan gelombang ombak tak hentinya.
Batu karang yang menyakitkan serta menimbulkan bekas luka lama.

Tetapi, detikku juga tak hentinya mengucap syukur kepada-Nya.
Atas segala skenario-Nya yang ada di lautanku.
Dia adalah Sutradara kehidupan yang akan selalu memahami pemainnya.

Aku sayang pada detikku, duaribu14.
Terima kasih,


Krakatau Sebelas

Jumat, 13 Juni aku sesatkan diriku bermain dengan alam. Aku sebagai pemilik hatiku ingin membuatnya menjadi senang. Kadar dosis akan pikiran terhadap ia mulai meluap. Ya, aku harus distraksi itu agar stabil kembali kadar dosis tersebut.

Pergi ke Pelabuhan Merak, Banten untuk menuju Gunung Anak Krakatau seorang diri ditemani manusia yang letih dan senang seraya duduk bersama dalam Bus yang aku tumpangi. Dalam perjalananku kadar dosis itu masih tinggi, sehingga aku berusaha menikmati perjalananku meratapi kedipan lampu-lampu yang menghiasi kota dengan ketidakteraturan yang indah bagiku.

Setiba di Pelabuhan Merak, Banten aku mengerti betapa banyaknya aneka manusia yang masih beraktivitas pada dini hari. Ya, mereka adalah di balik layar manusia-manusia yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaum kota, dengan kehidupan yang sangat timpang tentunya.

Aku berdiam diri, tentu mencari manusia-manusia yang serupa halnya denganku. Bertemu aku dengan sosok manusia tinggi tidak lebar berkaca mata berkaos merah. Berjabat tangan, kita seraya memproklamirkan pertemanan yang sah secara administrasi tentunya. Kemudian dia memperkenalkan manusia sosok tinggi seperti diriku berkaca mata dan menggunakan kaos merah. Kami berbicara akan sosok masing-masing diri kami. Tak lama aku kembali berjabat tangan dengan sosok manusia lebar dan berisik, hahaha. 

Kemudian kami berempat berbincang, sehingga membuat perutku berdemo menuntut gaji 12 jam yang tak kunjung ku berikan. Aku bergegas mencari gaji untuk perutku ditemani sosok manusia lebar dan berisik, hahaha. Ketika kami sedang memberikan gaji perut masing-masing, sosok manusia lebar menerima telepon dari temannya yang akan sampai bertemu kami.

Tak lama setelah menutup telepon, sosok-sosok tersebut berdatangan menghampiri kami dan berjabat tangan untuk proklamasi. Sosok pertama ada manusia lugu dan polos seperti anak kehilangan ibu, kemudian sosok kedua manusia berjenggot tipis layaknya seorang bapak dengan badan yang kekar tak berlebih, kemudian sosok berbadan besar sedikit cokelat gelap warna kulitnya, ada lagi sosok manusia kurus berkaca mata yang lucu senyumnya seperti anak, kemudian sosok manusia putih cina tak seperti tapinya, kemudian terakhir sosok yang aktif berbicara dan menggoda, hahaha. Kemudian kami berjalan kembali ke tempat berkumpul. Dan terakhir sosok seperti diriku, dengan sifat pendiam tetapi sekali bicara sangat menggoda secara efisien, hahaha.

Itu lah kami, yang mengproklamirkan diri sebagai Group Krakatau Sebelas, sebuah pertemanan singkat, namun sangatlah berkesan. Menikmati keindahan Pulau Krakatau dan sekitarnya selama 2 hari untuk selamanya. Bernyanyi mengarungi Selat Sunda menggunakan perahu kayu yang asik tentu rasanya.

Sketsa oleh manusia kurus berkaca mata yang lucu senyumnya seperti anak









*ini adalah postingan lama yang tersimpan lama di draft dan sudah lupa lama untuk ditampilkan.





Wednesday, August 20, 2014

Bandungku

Aku suka bandung karena Dia berada di sana. Sebuah kasih sayang yang abadi, tetapi tak dapat direngkuhnya.
Indah, sejuk, dan harum suasana gemericik air yang jatuh di tanah Bandung menyejukkan hati dan pikiranku.
Kenangan abadi seperti keabadian edelweiss indah yang tak pernah hilang.
Semoga ...

Thursday, June 12, 2014

Manusia Drama

Manusia berdrama,
Ya, karena dunia adalah panggungnya.

Jika drama hanya kemunafikan dari jiwa.
Engkau akan muak dan meludahinya.

Bertutur munafik atas nama sopan,
Bertingkah merendah untuk dipuja,
Berfikir kritis atas nama perut,
Berpandang atas nama syahwat,
Bekerja atas nama derajat.

Kemudian menjadi mahluk terasingkan begitu saja,
Sepi hidup sendiri.

Di balik sepinya hati dan jiwa.
Nikmatilah.

Alam kawan untuk bermain,
Maha Agung kawan untuk berbicara.
Karena ia takkan berdrama seperti Manusia.

Ketika mahluk yang mengasingkan tertawa lepas suka cita.
Tampakkanlah sedih, tanda menghormati usaha mereka.
Beri karya dan kebaikan untuk membungkamnya.




Monday, June 9, 2014

Tiga yang terkurung


Aku takut akan selalu menjadi angka kesepian seperti akar tiga
Hanya tiga yang aku miliki
Kenapa harus kusembunyikan tigaku di bawah tanda akar kuadrat yang kejam?

Ku mengharapkan diriku angka sembilan
Karena sembilan dapat mengalahkannya dengan aritmatika yang sederhana

Aku tahu takkan melihat matahari seperti 1,7321
Seperti kenyataanku, bilangan irasional yang menyedihkan

Ketika, hei, apakah ini yang kulihat? 
Sebuah akar tiga yang lain
Menari mendekatiku

Kemudian, bersama kita saling mengalikan
Membentuk angka yang kita inginkan.
Bersatu menjadi bilangan bulat

Kita mendobrak ikatan abadi, dengan ayunan tongkat sihir
Tanda kuadrat kami terlepas
Dan cinta untukku telah kembali



(Kumar, 2008)



Saturday, June 7, 2014

Senja yang tak layak hilang

Kamu, peralihan antar waktu.
Di mana ketika raksasa bintang putih bersinar menyengat.
Miniatur-miniatur di Bumi berlari-lari.
Seakan ingin menunjukkan keagungan pribadi.

Lelah setelah mereka mengejar keagungan dirinya.
Maha Agung sesungguhnya mengutus engkau.
Seolah lelah ini sirna tak perlu dirasa kembali.

Bintang raksasa tersebut melembut.
Tak ada keraguan lagi untuk menantang melihat dirinya.
Ya, senja hadir tak kala bintang raksasa merendah untuk turun menghampir.

Maha bintang merendah untuk miniatur Bumi atas perintah-Nya.
Masihkah kita yang hanya miniatur Bumi begitu congkak dalam keagungan pribadi?

Ya, senja itu tak layak hilang.
Aku ingin terus menatapmu.
Memeluk hangatmu.
Merasakan kelembutan harummu.
Kerendahan bersahajamu.

Aku, ya aku juga merasakan apa yang engkau berikan dari kekasih hatiku.
Kekasih hati yang hanya untuk dirasa.
Layaknya senjaku.

Friday, June 6, 2014

Terlintas kata-kata,

1.
"Keterbatasan (seharusnya), membuat kita semakin lebih kreatif." (dpriambo)

2.
"Dan merupakan bagian yang paling berbahaya; sadar benar jika harus berubah dan menolak orang yang datang dengan ide perubahan." (dpriambo)

3.
"Pergilah, maka kita akan menikmati perbedaan." (dpriambo)

4.
"Tugasku membuat kau senang, jika gagal maka aku sudah ditelan bumi." (dpriambo)

5.
"Yakini apa yang kita yakini, hasilnya keyakinan yang membuat senang." (dpriambo)

6.
"Kesulitan menjadikan kita; lebih baik atau lebih buruk." (dpriambo)

7.
"Loyalitas? Ah sudahlah, kupikir engkau bantal empuk yang terbuat dari awan." (dpriambo)

8.
"Ash-shalaatu khairum sinau. Sholat lebih baik dari pada belajar." (dpriambo) 

9.
"Bagiku, hidup keren itu sederhana." (dpriambo)

10.
"Manusia berdrama. Ya, karena dunia adalah panggungnya." (dpriambo)

11.
"PHP itu tidak ada, yang ada hanya ke-geer-an" (dpriambo)

12.
"Kita Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial yang berinteraksi dengan nyata bukan melalui media sosial." (dpriambo)

13.
"Kebahagiaan diciptakan oleh Manusia itu sendiri, bukan dengan mencarinya yang mengakibatkan terperosok ke jurang kesepian." (dpriambo)

14.
"Terseraaah lahhh ... Yaudaaa lahhh ... Gapapaaa Sihhh ..." (dpriambo)

15.
"Cinta itu bukan menghakimi, tapi mengasihi." (dpriambo)

16.
"Kita, dewasa karena penerimaan bukan paksaan." (dpriambo)
17.
"Jalanan, tempat berpancarnya mata tentang ketangguhan manusia." (dpriambo)





Monday, June 2, 2014

Senjata Hati

*** sedang digunakan ***

Siapa?

Dia,
Aku rasa bukan sekadar manusia.
Karena manusia tidak mungkin berbuat begitu.
Tindakannya selalu memberikanku makna untuk bertindak.
Ya, dibalik keputusanku selama ini.
Sesungguhnya atas inspirasinya jua.
Tapi, sangatlah disayangkan.
Aku belum dapat berbuat untuk dirinya lebih dari yang Dia berikan.
Terlambatkah bertindak?
Oh tentu tidak bagiku.
Karena dia selalu ada di dalam pikiran liarku.
Tugasku untuk buatmu tetap senang.
Jika aku gagal, tandanya aku sudah ditelan bumi.
Siapa dirinya?
Aku dan Dia.